Friday, December 28, 2007
Video tentang pengenalan Islam
untuk melihat video lebih banyak lagi silahkan kunjungi mutiara amaly video
Kisah dan cerita tentang orang orang yang kembali ke Islam klik mutiara hidayah
Sunday, December 23, 2007
Perlu Syukur
ALLAH melimpahkan rahmat-Nya kepada manusia sepanjang masa, tanpa sedetik pun terlepas dinikmati manusia. Jika tanpa rahmat Allah sedetik, pasti musnah seluruh alam ini, termasuk manusia dan segala kemegahan yang dikagumi selama ini.
Sepantasnya senantiasa sadar dan menyatakan rasa bersyukur kepada-Nya di atas segala nikmat hidup yang dianugerahkan. Sifat menunjukkan rasa bersyukur bukan saja satu amalan seperti mengucapkan rasa berterima kasih sesama manusia.
Sebaliknya, perbuatan yang berkaitan tanda bersyukur juga menjadi bukti tanda keimanan seseorang. Orang beriman senantiasa sadar siapakah dirinya dan tujuan asal diciptakan Allah. Apa yang dinikmati dan dimiliki di dunia ini adalah milik Allah yang dipinjamkan sementara saja.
Nikmat yang Allah sediakan untuk manusia amat besar. Manusia tidak mampu menggerakkan anggota badan sendiri tanpa izin Allah. Malah, tidak ada satu sel badan, daripada bermilyar-milyar sel dalam badan, dapat berfungsi sendiri melainkan ia ketentuan Allah.
Maka, besarnya kekuasaan Allah dan nikmat diberikan kepada manusia. Sesungguhnya, kehidupan ini serba lengkap dan sempurna. Manusia tidak mampu menghitung apa yang dinikmati karena tidak ada satu pun melainkan ia adalah ihsan karunia Allah.
Sedangkan Allah Maha Pengasih dan Maha Pemurah tidak meminta sebarang balasan terhadap apa dianugerahkan kepada manusia, melainkan beribadat dan bertakwa kepada-Nya.
Setiap yang dilakukan manusia adalah untuk dirinya sendiri baik di dunia maupun akhirat, Allah tidak mengharapkan pertolongan dari manusia.
Melihat sifat manusia mudah lupa, Allah banyak memberi peringatan dalam al-Quran yang menyebut kalimah syukur digandengkan dengan kalimah zikir.
Kedua kalimah itu memberi peringatan supaya manusia mengkaji setiap kejadian alam yang dijadikan Allah, tidak mudah lupa diri dan tidak bersikap angkuh.
Orang yang tidak bersyukur mudah lupa apabila mendapat kemewahan dan kejayaan hidup. Menganggap itu adalah hasil dari usahanya sendiri, serta menjadi kufur dan ingkar kepada Allah.
Sedangkan apabila dirinya ditimpa kecelakaan dan kesukaran hidup, maka mudah pula dia hilang pertimbangan dan keyakinan diri, lalu menyalahkan Allah atas nasib yang menimpanya.
Ironinya, tidak menganggap kecelakaan dan kegagalan itu bersumber dari sikapnya sendiri.
Dari Abdullah bin 'Amr r.a., Rasulullah s.a.w.bersabda, "Sampaikanlah pesanku biarpun satu ayat..!
--------------------------------------------
Mutiara Amaly - Penyejuk Jiwa Penyubur Iman
--------------------------------------------
"di hati kita bersama, di hati kita melangkah, jangan di pisahkan kasih bersaudara, jangan di dendamkan ukhuwah yang terbina!"
Friday, December 21, 2007
SINETRON
Tayangan tayangan di televisi kian menghancurkan martabat bangsa dan generasi negri ini. Hampir tiada hari tanpa sinetron dan infotaiment. Hampir tiada sinetron tanpa kisah anak gadis hamil diluar nikah, hampir tiada infotaiment tanpa kisah pacaran, putus-nyambung kawin–cerai selebritis yang semua itu adalah perkara yang di benci Allah dan Rasulnya.
Dan... efek dari semuanya ini langsung dibuktikan dalam "buser", "sergap", "investigasi" dll pemerkosaan, perampokan, pembunuhan dan berbagai kejahatan lain sebagaimana yang dicontohkan dalam sinetron. Sungguh nyata dan terbukti sukses. Mereka yang merancang program tayangan, mereka yang menayangkan bukti efek dan akibatnya. Demi perut, menunjukkan kebodohan diri tanpa malu.
Bahasa bahasa yang nampak keren dan ngetrend tersebut sesungguhnya nampak indah hanya bagi hati dan pikiran yang telah rusak, bagi yang nuraninya telah mati. Sinetron yang ada hanya karya karya murahan, jiplakan, dan tak bermutu hanya untuk mengeruk keuntungan materi tanpa peduli nasib generasi. Malang nian demi perut sanggup merusak generasi dan negrinya sendiri. Sanggup menempuh dosa.
Infotaiment bahasa lain yang mudah dipahami adalah ghibah. Allah telah menjelaskan ghibah itu artinya memakan bangkai saudara sendiri. Allah juga telah memberikan contoh nyata "hadits ifki" menyebar isu adalah sebuah dosa besar. Allah dan Rasulnya justru mengajarkan kebaikan bahwa aib saudaranya itu selayaknya ditutupi. "Man satara musliman satarallahu yaumal qiyamah" Barang siapa yang menutupi aib saudaranya maka Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat.
***
Saudaraku... masih menikmati proses merusak generasi dan menghancurkan negri ini ?
Thursday, December 20, 2007
--------------------------------------------
Mutiara Amaly - Penyejuk Jiwa Penyubur Iman
--------------------------------------------
"di hati kita bersama, di hati kita melangkah, jangan di pisahkan kasih bersaudara, jangan di dendamkan ukhuwah yang terbina!"
TENANG
***
"Mengapa cepat sekali hatiku berubah....”. Sejenak iman kuat membara di hati. Tetapi lama kelamaan pudar dan semakin redup. Dulu bersemangat mengkaji dan mengamalkan Islam, kini terus surut oleh kesibukan dunia yang seakan tanpa penghujung.
Semakin diri tenggelam ke dasar lautan duniawi, nafas iman terasa semakin lemah dan akan mati lemas akhirnya. Kelemahan iman menyebabkan diri tersungkur di lembah dosa. Ibadah yang tidak berkwalitas, perlahan menjadikan diri jauh dari Allah, terseleweng dari jalan-Nya, terbenam dalam permainan nafsu syahwat, hingga kesulitan untuk kembali. Hati mengeras, nurani pudar, jiwa gersang, aqidah goyah dan iman meranggas.
Sungguh tiada kemalangan yang lebih dahsyat bila semacam ini berterusan hingga di pintu kubur. Wal'iyadzubillah.
Rusaknya amal bermula dari hati yang tidak dapat khusyuk. Penyakit akan bertambah apabila terjadi kemalasan ketika beribadat. Berjumpa dan berhubungan dengan Allah tanpa wujud perasaan seolah-olah kosong dan hampa. Melakukan sekedar diri terlepas kewajipan tanpa merasai kemanisan ibadat. Penyebab hilangnya khusyuk ialah hati terlalu keras itu.
Rekreasi bisa meredakan ketegangan, menuruti selera dan shopping bisa mengobati kebosanan, memakai pakaian yang indah dan mahal tidak dilarang, membeli perhiasan dan apa yang menyukakan hati boleh melahirkan kesyukuran kepada nikmat Allah Taala.
Akan tetapi, perkara begini kadang-kadang membuat lalai. Berlebihan dalam memanjakan diri, akan melemahkan semangat perjuangan hidup. Mengaburkan mata dan hati dan akhirnya larut dalam kesibukan dunia hingga melupakan akhirat.
Tidak menghadiri majlis ilmu atau pengajian, bisa menyebabkan lupa dan hilang pedoman hidup, tidak jelas arah dan tujuan. Siapa diri ini, berasal dari manakah dia, mau ke mana dan apa yang mau dicapainya? Manusia yang lemah iman mudah kehilangan tujuan hidupnya. Untuk mendapatkan kembali pedoman hidupnya supaya tidak tersalah jalan, memerlukan hidayah iaitu ilmu Allah.
Hidayah perlu dikejar dengan mujahadah. Perlu dijaga dan dirawat agar tak terlepas dari genggaman. Setiap mukmin memiliki hati yang mampu berbisik mengenai keadaan imannya, siapakah yang paling mengetahui diri kita melainkan Allah Taala dan diri kita sendiri.
Tuesday, December 18, 2007
Johanes Paulus
Keluarga saya sangat dikenal sebagai penganut Kristen yang taat dan fanatik. Ayah saya, Laksamana Pertama (Purn.) R.M.B. Suparto dan ibu saya, Maria Agustine Kamtinah.
(Red : Dr. H. Bambang Sukamto, saat ini aktif di kegiatan sosial Harian Republika / Dompet Dhuafa Republika dan Ketua Yayasan Masjid Namira (Al Manthiq) Jl Tebet Barat Dalam V Jakarta Selatan, yang secara khusus melakukan pembinaan kepada para mualaf)
Latar belakang pendidikan saya adalah pendidikan yang berbasis agama Kristen Katolik, baik itu pendidikan formal maupun pendidikan di lingkungan keluarga.
Sejak kecil saya sudah dididik menjadi penganut agama yang fanatik. Oleh orang tua, saya disekolahkan di sekolah Kristen. Mereka memasukkan saya ke Taman Kanak-kanak Santa Maria Yogya.
Kemudian dilanjutkan pada Sekolah Dasar Kanisius Yogya. Lalu dimasukkan ke sekolah menengah pertama hingga menengah atas di sekolah Kanisius Jakarta.
Untuk lebih memantapkan agama dalam diri saya, pada umur 12 tahun saya dipermandikan atau dibaptis. Oleh gereja, saya diberi nama Yohanes.
Pada umur 17 tahun, saya pun mendapat nama tambahan lagi yakni Paulus. Nama itu diberikan setelah saya mengikuti upacara sakramen penguatan yang dilakukan oleh pihak gereja.
Jadi, sekarang nama Kristen saya adalah Yohanes Paulus. Nama ini menggantikan nama pemberian orang tua saya, yaitu Bambang Sukamto.
Anti Islam
Karena latar belakang pendidikan dan pergaulan selalu dalam lingkaran agama Kristen Katolik, maka sejak kecil saya selalu diberi pandangan bahwa agama Islam itu agama yang sesat. Orang-orang Islam itu adalah domba-domba yang perlu diselamatkan. Setiap kali mendengar suara mereka mengaji, selalu saya anggap mereka sedang memanggil setan.
Begitu pun setiap saya melihat mereka shalat, saya beranggapan mereka sedang menyembah iblis. Perasaan anti Islam terasa begitu kuatdalam diri saya, sehingga saya berniat untuk menyerang teman-teman yang beragama Islam.
Kepada mereka, saya selalu mempromosikan bahwa agama sayalah yang paling benar.
Setelah lulus sekolah lanjutan atas, saya melanjutkan studi ke Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). Di lingkungan kampus ini saya kembali bergabung dalam kelompok aktivis gereja.
Dalam kelompok ini saya juga bergabung dalam sebuah kelompok yang sangat militan. Dalam kelompok militan ini saya berjuang sebagai prajurit Perang Salib yang bertujuan menghadapi syiar agama Islam di Indonesia.
Setelah bergabung dalam kelompok ini, saya semakin yakin bahwa umat Islam yang mayoritas ini merupakan domba-domba yang harus diselamatkan. Saya akan menyelamatkan dan mengajak mereka untuk ikut dalam ajaran Yesus Kristus, khususnya masuk dalam agama Kristen Katolik.
Dalam studi kedokteran ini, saya juga bergabung dalam sebuah kelompok studi. Kelompok ini beranggotakan empat orang mahasiswa. Tiga orang teman saya beragama Islam, sedangkan yang Kristen cuma saya.
Kami selalu belajar bersama di rumah saya. Bila tiba waktu shalat, mereka pamit sebentar untuk shalat berjamaah. Usai shalat, mereka saya ajak untuk berdiskusi mengenai masalah agama.
Dalam diskusi itu, saya mulai menyerang mereka. Saya selalu mendiskreditkan agama mereka. Misalnya, mengapa shalat itu harus menghadap kiblat dan harus berbahasa Arab dalam membacanya.Saya katakan pada mereka, kalau begitu Tuhan kalian tidak sempurna, karena hanya ada di Arab.
Setelah itu, saya membandingkan dengan Tuhan agama saya yang ada di mana-mana. Mendapat serangan itu, teman-teman saya tenang saja. Mereka menjawab bahwa di mana pun berada, orang Islam dapat shalat berjamaah dan selalu sama bahasanya dalam beribadah.
Ini menunjukkan bahwa agama Islam itu agama yang benar dan universal (untuk semua manusia). Mereka malah balik bertanya, mengapa orang Kristen itu kalau bangun gereja tidak satu arah? Malah terkesan berantakan ke segala arah? Itu, kata mereka, menunjukkan bahwa Tuhan saya akan bingung ke mana harus berpaling.
Mereka juga mengatakan, bahasa agama saya itu tidak sama, bergantung wilayah. Jadi, kesimpulannya, mereka mengatakan bahwa agama saya itu hanya agama lokal. Saya kaget dan tersentak mendengar jawaban itu. Ternyata mereka pandai-pandai, tidak seperti dugaan saya selama ini.
Masuk Islam
Saat duduk di tingkat IV FKUI, saya menjalin hubungan dengan gadis muslimah. Gadis itu ingin serius kalau saya sudah beragama Islam. Tawaran ini tidak saya penuhi, karena sikap anti-Islam saya kala itu sangat kuat. Akhirnya kami putus. Sikap keras gadis ini membuat saya penasaran. Mengapa gadis itu tidak goyah keyakinannya? Rasa penasaran ini mendorong saya untuk banyak membaca dan mempelajari Islam.
Saya coba melahap buku-buku Islam, seperti Akidah dan Tauhid Islam, Api Islam, Soal Jawab tentang Islam, dan Islam Jalan Lurus. Untuk hal yang tidak jelas, saya sering bertanya kepada teman teman. Saya juga sering menghadiri kuliah dan diskusi agama Islam.
Dari sinilah, tanpa saya sadari, muncul ketertarikan terhadap Islam. Saya begitu kagum dan hormat kepada pribadi Nabi Muhammad saw yang telah membawa dan memperjuangkan agama agung dan mulia ini. Dari sini pula, saya dapat memperoleh jawaban dari berbagai persoalan yang selama ini menjadi ganjalan dalam agama saya. Saya mulai percaya, Islam adalah agama yang rasional, mengajarkan disiplin, bersifat sosial, dan menjunjung tinggi kesusilaan.
Pengalaman seperti ini membuat keimanan saya goyah. Saya sering lupa pergi ke gereja. Saya sering terbangun jika mendengar azan subuh. Saya sering mendengar suara yang memanggil untuk beriman secara benar. Dalam hati, saya ingin meniatkan untuk masuk agama Islam. Tapi, saya belum beraru mengutarakannya kepada keluarga dan teman-teman seagama.
Tahun 1971, keinginan untuk masuk Islam semakin kuat. Teman-teman kuliah dulu mendukung keinginan itu. Akhirnya pada bulan Ramadhan tahun itu juga, saya berikrar menjadi seorang muslim. Di bawah bimbingan cendekiawan muslim, saya mengucapkan ikrar dua kalimat syahadat di rumah Bapak Syaaf di Kramat Kwitang.
Rasa haru dan gembira pada saat itu tidak terlupakan. Teman-teman menyambut baik keislaman saya itu. Saya merasakan betapa sejuk dan nikmatnya persaudaraan Islam ini. Nama baptis dan sakremen, Yohanes Paulus, segera saya ganti dengan nama pemberian orang tua saya semula, yakni Bambang Sukamto.
Keislaman saya ini mendapat tantangan dari keluarga dan teman-teman gereja. Mereka menyindir, mencela, dan bahkan menuduh saya sesat. Mereka juga berusaha untuk menarik saya kembali ke agama lama.
Yang paling berat adalah tantangan dari ibu kandung saya. Saya dimarahi dan dicaci maki habis-habisan, karena dianggap telah berkhianat. Ibu juga mengancam akan bunuh diri jika saya tidak kembali ke agama Kristen. Tantangan ini saya hadapi dengan sabar dan tabah.
Lama-kelamaan tantangan ibu saya itu reda juga. Akhirnya, saya dapat menjalankan ibadah ini dengan baik dan tenang. Saya banyak belajar tentang Islam.
Alhamdulillah, pada tahun 1991, saya bersama istri dapat menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci.
Dan untuk membantu para mualaf dalam mempelajari Islam, saya bersama teman-teman mendirikan sebuah pengajian/majelis taklim
Dari Abdullah bin 'Amr r.a., Rasulullah s.a.w.bersabda, "Sampaikanlah pesanku biarpun satu ayat..!
--------------------------------------------
Mutiara Amaly - Penyejuk Jiwa Penyubur Iman
--------------------------------------------
"di hati kita bersama, di hati kita melangkah, jangan di pisahkan kasih bersaudara, jangan di dendamkan ukhuwah yang terbina!"
Meniti Jejak Generasi Terbaik
Kehancuran tidak menakutkan kami,
Engkaulah penolong kemenangan kami,
Dan tunjukkanlah jalan-jalan perjalanan kami.. Kami prajurit-prajurit Tuhan, agama bagi kami adalah watan,
Kami prajurit-prajurit pilihan, tidak gentar segala ujian,
Bagi kami kitab didatangkan, peraturannya adalah perjalanan,
Hendaklah kita hidup menurut petunjukNya, rasa mulia penuh kemegahan,
Atau kami mati sebagai tebusan..
Itulah peralatan keselamatan, kewajiban kamu membimbing zaman,
Dengan pedang kamu muliakan kebenaran, persaudaraan kita sebagai binaan,
Di antara mesir dan syam, hijjaz dan yaman,
Suatu lompatan ke hadapan, di puncak zaman, bagaikan singa-singa yang gagah.
Bergandengan dalam genggaman, tegakkanlah sumpah setia kita,
Tetap teguh dalam barisan kita, teruskanlah dan gerakkanlah jiwa,
Ratusan dan ribuan semuanya sebagai korban,
Dengan mata pedang kita mengembalikan keagungan kita,
Dengan kitab sebagai perundangan, Rasul pimpinan kita,
Keyakinan persiapan kita
Pemuda kebenaran kembalilah,
Dan kepada Allah berdoalah,
Jika untuk agama kita berjuang,
Pertolongan yang dekat akan datang kepada kita
Wahai pemuda berjalanlah,
Berjalanlah di jalan Allah,
Berilah ingatan di jalan Allah (walaupun) sehingga,
Diketahui keadaan yang berbahaya..
Siapa lagi selain kamu wahai pemuda,
Di hari yang penuh bahaya,
Kamulah harapan kami,
Kamulah singa yang garang,
Ikhlaskan hatimu kepada Allah,
Ibadahlah kepada RabbMu yang Maha Pemurah,
Setiap orang yang memenuhi janjinya
Yang Maha Pemurah akan datang dekat kepadanya
Dari Abdullah bin 'Amr r.a., Rasulullah s.a.w.bersabda, "Sampaikanlah pesanku biarpun satu ayat..!
--------------------------------------------
Mutiara Amaly - Penyejuk Jiwa Penyubur Iman
--------------------------------------------
"di hati kita bersama, di hati kita melangkah, jangan di pisahkan kasih bersaudara, jangan di dendamkan ukhuwah yang terbina!"